Marhaeneyes Project: Pentingnya Literasi Dalam Kehidupan Sehari-Hari
Oleh : Gratsia Christopher (Gret, Marhaeneyes Project)
Pentingnya literasi dalam kehidupan sehari-hari tidak bisa kita pandang dengan sebelah mata. Kami, Marhaeneyes Project, melihat bahwa literasi tidak hanya sekadar kemampuan membaca dan menulis, tetapi juga mencakup kemampuan memahami, menafsirkan, dan menganalisis informasi. Meskipun demikian, literasi sangat erat kaitannya dengan membaca karena membaca merupakan kemampuan dasar dan pintu utama dalam pengembangan literasi.
Membaca bukan sekadar mengenal huruf atau kata, tetapi juga memahami makna dari bacaan tersebut, mengolah informasi, serta menggunakannya untuk berpikir kritis dan menyelesaikan masalah.
Berbicara tentang literasi, bagaimana kondisi literasi yang ada di Indonesia saat ini? Dilansir dari goodstats.id, survei yang dilakukan pada tahun 2025 menunjukkan bahwa hanya 1 dari 5 orang di Indonesia yang membaca buku setiap hari, sementara 17% responden hanya membaca sesekali dan 15% lainnya jarang membaca buku. Fakta tentang minimnya literasi di Indonesia ini tentu sangat mengejutkan! Hal ini seharusnya menyadarkan kita bahwa literasi di Indonesia harus lebih dikembangkan.
Salah satu penyebab minimnya literasi di Indonesia adalah, di tengah perkembangan era-digital saat ini, masyarakat Indonesia cenderung lebih memilih konten visual dan instan yang tersedia di internet dan media sosial dibandingkan membaca buku atau sumber bacaan mendalam, sehingga masyarakat Indonesia cenderung mudah teralihkan.
Meskipun di era-digital saat ini masyarakat cukup terbantu dengan kemudahan dalam mengakses informasi, masyarakat Indonesia yang saat ini mudah teralihkan cenderung mudah termakan berita hoaks.
Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) mengklarifikasi sebanyak 1.923 konten hoaks sepanjang tahun 2024. Padahal di tengah derasnya informasi dan maraknya hoaks, literasi menjadi benteng yang melindungi individu dari informasi yang menyesatkan.
Joseph Brodsky mengatakan, “There are worse crimes than burning books. One of them is not reading them.”, yang artinya, “Kejahatan terburuk dari membakar buku-buku adalah tidak membacanya.” Dari kutipan ini dapat kita pahami bahwa, selain maraknya hoaks yang terjadi karena minimnya literasi di kalangan masyarakat, tindakan merugikan lainnya tentu terjadi akibat kebodohan, dan salah satu penyebab kebodohan yang ada di Indonesia terjadi karena minimnya literasi.
Dengan literasi yang baik, seseorang dapat mengevaluasi dan memanfaatkan berbagai sumber informasi, membedakan fakta dan opini, serta menarik kesimpulan yang rasional dari apa yang dibaca. Dengan begitu, kami dari Marhaeneyes Project mengajak kita semua untuk lebih memperhatikan literasi. Dengan literasi, kita mampu memanfaatkan informasi secara lebih bijak, sehingga dapat menghasilkan jejak digital yang positif dan aman.

Tinggalkan Balasan