Marhaeneyes Project di Aksi Kamisan Kalteng ke-88: Tidak Rasional Sejajarkan Soeharto Dengan Marsinah
Palangka Raya – Aksi Kamisan Kalimantan Tengah (Kalteng) ke-88 kembali digelar dengan mengangkat tema “Soeharto & Marsinah: Yang Mana Pahlawan & Pelanggar HAM?” dan diikuti oleh Marhaeneyes Project bersama berbagai simpatisan, serta aktivis HAM lainnya. Aksi ini digelar di Taman Tugu Soekarno, tepat di depan Kantor DPRD Provinsi Kalimantan Tengah, Kamis sore (13/11/2025).
Penetapan Marsinah dan Soeharto dalam bingkai yang sama sebagai Pahlawan Nasional pada peringatan Hari Pahlawan, Senin (10/11/2025) lalu, menuai kritik dari seluruh simpatisan Aksi Kamisan Kalteng, khususnya oleh Nayla Nazwa atau yang akrab disapa Naela dan Gratsia Christopher atau yang akrab disapa Gret dari Marhaeneyes Project. Mereka menilai keputusan tersebut mencederai ingatan kolektif dan mendistorsi sejarah.
“Menyandingkan nama Marsinah dan Soeharto sebagai pahlawan nasional adalah bentuk distorsi sejarah yang serius dan merusak ingatan kolektif,” ujar Naela dari Marhaeneyes Project.
Sementara itu, Gret dari Marhaeneyes Project menyebut keputusan pemerintah sebagai ironi yang menunjukkan ketidakrasionalan dalam melihat sejarah.
“Bagaimana mungkin Marsinah—korban kekejaman rezim karena memperjuangkan hak buruh—disandingkan dengan Soeharto, pemimpin rezim yang menindasnya? Itu tidak rasional. Siapa pun pelaku langsung pembunuhan Marsinah, dalang utama atas kekejaman rezim saat itu tetaplah Soeharto,” tegasnya.
Gret juga menambahkan bahwa generasi muda tetap memiliki hak untuk mengkritisi sejarah, meski tidak mengalami langsung masa pemerintahan Soeharto.
“Jika generasi muda dianggap tidak pantas mengkritisi kekelaman rezim Soeharto, sama saja kita dilarang membahas kejahatan masa penjajahan Jepang, Belanda, atau tokoh-tokoh tirani dalam sejarah. Siapa pun yang mempelajari sejarah berhak mengkritisi pelanggaran HAM,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa keberanian melawan ketidakadilan adalah upaya untuk merawat kemerdekaan.
“Kemerdekaan hanya dapat diraih dengan keberanian untuk menolak dan melawan ketidakadilan,” tutup Gret.
Dalam Aksi Kamisan Kalteng tersebut, Marhaeneyes Project juga mengingatkan bahwa mengkritisi kebijakan pemerintah yang dianggap menyimpang merupakan bentuk kepedulian terhadap negara, bukan tindakan permusuhan dan anti-pemerintah.

Tinggalkan Balasan