Palangka Raya – Gelombang pertanyaan dari sekelompok netizen dan ormas Dayak Kalimantan Tengah atas penilaian karnaval Festival Budaya Isen Mulang pada kategori umum yang justru memberikan juara satu maupun dua terhadap panguyuban yang membawa adat budaya luar disusul DAD Kalteng sebagai juara ketiga pada perhelatan karnaval FBIM dalam rangka memperingati HUT Kalteng ke-68.

Momentum hari jadi Kalteng tersebut yang dimana pada kegiatan FBIM tersebut adalah kesempatan bagi budaya adat lokal Dayak di Kalimantan Tengah dapat ditampilkan serta eksis dalam mengangkat budaya Dayak justru harus menerima kenyataan bahwa budaya luar lah yang menjadi pemenang pada kategori umum karnaval FBIM.

Menyikapi hal tersebut Yusup Roni Hunjun Huke selaku ketua Dewan Pengurus Daerah Persatuan Alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia Kalimantan Tengah menyoroti hal tersebut. Ia mempertanyakan kejelasan panitia terhadap kegiatan yang judulnya festival Budaya Isen Mulang akan tetapi yang di tampilkan dan dimenangkan pada karnaval beberapa waktu lalu malah kebudayaan dari luar.

“Seperti apasih pemilihan dan kejelasan kegiatan ini, kegiatan ini judulnya Festival Budaya Isen Mulang tapi yang ditampilkan dan dimenangkan pada parade karnaval malah budaya dari luar, ini bukan Kita terlalu fanatik, tapi perlu ada penempatan yang sesuai dengan tajuk kegiatan” ungkap Yusup

Ia juga menyarankan agar kedepan pada kegiatan yang tajuknya adalah kebudayaan daerah itu sendiri seperti FBIM maka prioritas yang di suguhkan dalam perlombaan adalah kesenian dan kebudayaan Dayak yang daerah itu sendiri.

“Kita sebagai kaum marhaenis sebagai bagian dari kaum ideologi Soekarno, identitas jadi diri sebagai bangsa yang berbudaya itu harus jelas, berkepribadian dalam budaya itu jelas dalam gagasan Tri sakti oleh Bung Karno. Maka dari itu kita jangan malu mengaku diri Kita sebagai suku yang berbudaya dan beradat” tegasnya.

Disisi yang sama salah satu Tokoh Muda Dayak yang juga adalah kader GMNI Daniel Olan turut menyoroti atas kurangnya ketegasan serta kekeliruan kegiatan Festival Budaya Isen Mulang yang sedang hangat diperbincangkan dikalangan masyarakat Kalteng.

Ia menyoroti bahwa FBIM dimana judul kegiatannya adalah kebudayaan daerah Isen Mulang Kalimantan Tengah yang semestinya harus ditonjolkan namun pada kenyataannya adalah budaya luar sebagai juara pada kategori umum. Ia juga mencontohkan kegiatan Pekan Gawai Dayak di Kalimantan Barat yang cukup spesifik dalam menunjukkan indentitas budayak Dayak.

“Inikan kegiatan Festival Budaya Isen Mulang tapi seperti yang kita ketahui justru kebudayaan luar lah yang juara pada kategori umum, kita contohkan saja seperti PGD di Kalbar mereka lebih spesifik dalam menunjukkan indentitas kedayakannya. Kalo seperti ini ya ganti saja judul kegiatan itu misalkan Festival Budaya Nusantara boleh jadi kebudayaan luar jadi juara. Jangan karena kita ingin menghargai yang lain namun justru merendahkan kebudayaan lokal Daerah yang kita punya, malah jadi rancu kan judul nya budaya Isen Mulang eeh yang juara budaya luar” imbuhnya.

Ia juga menyampaikan bahwa jikau Festival itu dikhususkan untuk budaya lokal Dayak di Kalteng agar tidak membuka pendaftaran untuk peserta diluar budaya Dayak Kalteng.

“Ini harapan sih kedepan untuk Panlak ya kalo ini tema nya untuk kebudayaan yang ada di Kalteng artinya kita tau kebudayaan yang ada di Kalteng ya kebudayaan Dayak ya kan, tidak lagi membuka pendaftaran untuk peserta yang menampilkan kebudayaan luar, tapi kalo untuk memeriahkan ya silahkan saja, kalo turut dalam perlombaan ya jangan, karena ini harus dipertegas kedepan harus memiliki skop serta penempatan yang tepat” pungkasnya

Ia juga menyampaikan bahwa kedepan panitia festival harus mempertegaskan kembali antara judul kegiatan disesuaikan dengan peserta yang benar-benar mengangkat budaya terkhususnya budayak Dayak yang ada dikalteng.