Palangka Raya – Dewan Pimpinan Daerah Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPD GMNI) Kalimantan Tengah mengecam keras pernyataan Anggota DPR RI Ahmad Syahroni yang menyebut “masyarakat tolol” saat menanggapi polemik rencana aksi di Gedung DPR RI pada hari ini 25 Agustus 2025.

Dalam rilis resminya, GMNI Kalteng menilai ucapan Ahmad Syahroni tidak etis, merendahkan martabat rakyat, serta mencederai nilai demokrasi. Sebagai wakil rakyat, seorang legislator seharusnya mendengarkan dan mengakomodasi aspirasi masyarakat, bukan justru melontarkan penghinaan terhadap kritik publik.

Ketua DPD GMNI Kalteng, Maulana, menyebut pernyataan Ahmad Syahroni menunjukkan arogansi politik dan sikap antikritik yang berbahaya bagi kehidupan demokrasi.

“Kami mengecam keras pernyataan Ahmad Syahroni. Rakyat bukan tolol. Justru rakyatlah pemilik kedaulatan tertinggi dalam demokrasi. Wakil rakyat harusnya merendahkan hati, bukan merendahkan rakyat,” tegas Maulana di Palangka Raya, Senin (25/8/2025).

Sehubungan dengan itu, GMNI Kalteng menyampaikan tiga tuntutan utama. Pertama, mendesak Ahmad Syahroni untuk menarik ucapannya secara terbuka dan meminta maaf kepada seluruh rakyat Indonesia. Kedua, meminta Badan Kehormatan DPR RI memproses Syahroni atas pernyataan yang dinilai tidak mencerminkan etika seorang wakil rakyat. Ketiga, mengajak pemuda, mahasiswa, dan masyarakat sipil untuk terus mengawal demokrasi dan menolak segala bentuk pelecehan terhadap aspirasi rakyat.

“Rakyat tidak tolol. Rakyat berteriak karena merasakan langsung dampak dari setiap kebijakan yang dibuat oleh para wakilnya. Justru wakil rakyat yang lupa diri, lupa mandat, dan lupa siapa yang memilihnya,” pungkas Maulana.

DPD GMNI Kalteng menegaskan, kritik masyarakat adalah bagian sah dari demokrasi, dan mahasiswa bersama rakyat merupakan subjek perubahan yang tidak boleh dilecehkan.