Palangka Raya – Dewan Pimpinan Daerah Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPD GMNI) Kalimantan Tengah menyayangkan keterlibatan aparat kepolisian berseragam lengkap dan pengawalan ketat anggota kepolisian berseragam lengkap sebagai dosen tamu di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Palangka Raya.

Kecaman itu disampaikan langsung oleh Wakil Ketua Bidang Politik DPD GMNI Kalteng, Satria Bintang Erja Hamadani, yang menilai tindakan aparat tersebut tidak etis dan mencederai ruang akademik.

“Saya sangat menyayangkan peristiwa tersebut. Menurut saya, hal itu melanggar norma etika dan moral. Saya tidak mempermasalahkan aparat kepolisian menjadi tenaga pendidik karena secara hukum tidak dilarang, asalkan berkompeten dan layak. Tetapi yang menjadi masalah adalah ketika aparat mengajar mahasiswa dengan pakaian seragam lengkap dan pengawalan ketat,” tegas Satria kepada Kasumbanews.com, Jum’at (22/08/2025).

Bintang menilai kehadiran aparat berseragam di ruang kelas berpotensi mematikan nalar kritis mahasiswa. Menurutnya, mahasiswa adalah insan akademis yang identik dengan daya fikir yang kritis, sehingga keberadaan aparat berseragam justru menimbulkan tekanan psikologis bagi mahasiswa.

“Saya khawatir mahasiswa akan enggan bertanya atau mengemukakan pendapat kritis ketika melihat seragam dan baret aparat. Apalagi audiens saat itu adalah mahasiswa baru yang masih meraba-raba dunia kampus,” jelasnya.

Lebih lanjut, Bintang berharap kejadian serupa tidak terulang kembali. DPD GMNI Kalteng menegaskan pentingnya menjaga kampus sebagai ruang steril dan bebas dari intervensi yang berpotensi mengekang kebebasan berpikir dan ber ekspresi.

“Saya yakin dan percaya, Kalimantan Tengah tidak kekurangan tokoh atau praktisi yang bisa menjadi dosen tamu. Oleh karena itu, ke depan jangan lagi ada praktik seperti ini demi menjaga kampus tetap menjadi wadah yang steril terhadap kebebasan berfikir kritis mahasiswa,” pungkasnya.