GMNI Kalteng Apresiasi Transparansi Data Pertanian dan Tegaskan Komitmen Kawal PSN Cetak Sawah
Palangka Raya, 10 November 2025 Dewan Pimpinan Daerah Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (DPD GMNI) Kalimantan Tengah melakukan audiensi dengan Kepala Dinas Tanaman Pangan, Hortikultura dan Perkebunan (TPHP) Provinsi Kalimantan Tengah, Rendy Lesmana, pada Jumat, 7 November 2025. Pertemuan ini menjadi ruang dialog strategis mengenai arah pembangunan pertanian di Kalimantan Tengah, termasuk Program Strategis Nasional (PSN) Cetak Sawah Rakyat, kondisi ketahanan pangan, serta kesiapan hilirisasi pertanian di daerah tersebut.
GMNI Kalteng menegaskan bahwa audiensi ini merupakan bagian dari fungsi kontrol sosial organisasi mahasiswa terhadap kebijakan publik, terutama di sektor pangan yang dinilai sangat berkaitan dengan hajat hidup masyarakat luas.
Dalam pertemuan tersebut, Kepala Dinas TPHP membuka data capaian produksi padi Kalimantan Tengah tahun 2025 secara transparan. Ia menyampaikan bahwa provinsi tersebut berada dalam kondisi surplus produksi pangan, khususnya komoditas padi.
“Berdasarkan data kami, produksi GKP mencapai 510.181,18 ton dan produksi GKG sebesar 437.531,38 ton. Capaian ini menunjukkan bahwa Kalimantan Tengah berada dalam posisi mampu memenuhi kebutuhan pangan utamanya.” Ucap Rendy Lesmana
Merujuk pada data jumlah penduduk Kalimantan Tengah yang diproyeksikan mencapai 2,84 juta jiwa, serta standar konsumsi beras nasional 94,04 kg per kapita per tahun, kebutuhan beras provinsi tersebut diperkirakan sekitar 266 ribu ton per tahun. Dengan produksi GKG mencapai 437 ribu ton, Kalimantan Tengah dinyatakan surplus cukup besar dan berpotensi menjadi lumbung pangan regional.
GMNI menilai capaian tersebut sebagai peluang besar, dengan catatan pemerintah harus memastikan stabilisasi harga dan penguatan hilirisasi agar petani tidak dirugikan saat panen raya.
Dalam dialog tersebut turut dibahas pembangunan dua fasilitas pengolahan gabah modern yang menjadi tulang punggung hilirisasi pertanian daerah, yaitu:
- Rice Milling Plant (RMP) di Desa Lampuyang, Teluk Sampit, Kotawaringin Timur, dengan fasilitas modern seperti vertical dryer, mesin penggilingan kapasitas besar, gudang penyimpanan, hingga fasilitas pengemasan beras premium.
- Rice to Rice (RtR) Plant di Desa Pantik, Kabupaten Pulang Pisau, yang dirancang sebagai pusat pengolahan gabah terintegrasi berbasis teknologi pascapanen.
GMNI melihat keberadaan dua fasilitas ini sebagai instrumen penting untuk menciptakan tata niaga beras yang lebih efisien dan stabil.
Salah satu pembahasan utama adalah Program Strategis Nasional Cetak Sawah Rakyat. GMNI menegaskan dukungannya terhadap program ini, namun menekankan perlunya pelaksanaan yang berbasis pada kebutuhan petani dan kelestarian lingkungan.
Dalam sikap resminya, GMNI menyatakan bahwa program Cetak Sawah harus dijalankan dengan baik, menghindari pembukaan lahan yang berpotensi menimbulkan kerusakan ekologis. Mereka menegaskan pentingnya pembelajaran dari kegagalan masa lalu, seperti Proyek Lahan Gambut (PLG) dan Food Estate.
“GMNI mengapresiasi keterbukaan Dinas TPHP, serta atas capaian produksi padi Kalimantan Tengah. Tetapi kami menekankan bahwa pembangunan pangan tidak boleh mengulang kesalahan masa lalu. Cetak Sawah harus menjadi program pro-rakyat, bukan sekadar proyek yang membebani alam dan merugikan masyarakat.” Ujar Maulana
Menutup pertemuan, GMNI Kalteng menyampaikan komitmen untuk mengawal implementasi program Cetak Sawah Rakyat, mengawasi potensi penyimpangan, serta mendorong pembangunan pertanian berkelanjutan yang memprioritaskan kesejahteraan petani dan kelestarian lingkungan.
GMNI Kalteng percaya bahwa ketahanan pangan hanya dapat dicapai melalui kolaborasi antara pemerintah, petani, akademisi, dan masyarakat dalam kerangka kebijakan yang benar-benar berpihak pada rakyat.

Tinggalkan Balasan