PALANGKA RAYA — Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kalimantan Tengah menegaskan pentingnya kembali pada jati diri organisasi dalam momentum Pelantikan DPC GMNI Palangka Raya yang digelar di Aula Rumah Jabatan Wali Kota Palangka Raya, Kamis (13/2/2026).

Ketua DPD GMNI Kalimantan Tengah, Maulana Uger, dalam pidatonya menekankan bahwa pelantikan bukan sekadar agenda seremonial, melainkan titik awal konsolidasi organisasi untuk memperkuat peran GMNI sebagai organisasi kader dan organisasi perjuangan.

“Pelantikan pengurus DPC GMNI Palangka Raya merupakan tonggak awal untuk memulai langkah baru dan mengembangkan organisasi ke arah yang lebih terstruktur,” ujarnya.

Ia memberikan komentar atas kepengurusan sebelumnya yang dinilai bekerja ekstra dalam menjaga organisasi di tengah tantangan berat pasca pandemi Covid-19. Menurutnya, perubahan iklim kampus menyebabkan penurunan kualitas dan kuantitas kader, sehingga membutuhkan langkah perbaikan secara menyeluruh.

Dalam arahannya, Maulana menegaskan bahwa agenda utama GMNI ke depan adalah rekonsolidasi organisasi. Ia menyebut GMNI Palangka Raya sebagai pusat kekuatan (center of gravity) GMNI di Kalimantan Tengah yang harus mampu menghidupkan kembali struktur organisasi hingga tingkat komisariat.

“Kita harus merapikan tata organisasi. DPC harus aktif melakukan konsolidasi dan menjemput kader baru agar GMNI tidak hanya seperti menjadi sekumpulan orang, tetapi kekuatan ideologis yang terorganisir,” tegasnya.

Ia juga mengingatkan pentingnya penyelesaian perbedaan melalui forum organisasi, bukan melalui konflik terbuka di ruang publik.

Selain konsolidasi, GMNI Kalteng juga mendorong restorasi gerakan mahasiswa agar kembali berpijak pada ideologi dan analisis ilmiah. Menurutnya, dinamika demokrasi saat ini menghadirkan berbagai persoalan baru, termasuk praktik politik uang dan polarisasi sosial.

Maulana menilai gerakan mahasiswa harus menggunakan marhaenisme sebagai pisau analisis dalam membaca persoalan bangsa.

“Setiap isu harus dibedah dengan dasar ideologi. Marhaenisme menjadi landasan perjuangan agar gerakan tetap berpihak kepada rakyat kecil,” katanya.

Ia juga menekankan pentingnya peningkatan kualitas kaderisasi melalui pelaksanaan PPAB yang masif, bukan sekadar kegiatan seremonial.

Menurutnya, kader GMNI harus dibentuk dengan kemampuan analisis yang kuat serta keberpihakan nyata kepada rakyat.

“GMNI harus menjadi wadah pembentukan kader bangsa untuk mewujudkan cita-cita sosialisme Indonesia, yakni keadilan dan kemakmuran bagi rakyat Indonesia,” ujarnya.

Selain itu, indoktrinasi marhaenisme disebut sebagai agenda fundamental organisasi agar ideologi tidak hanya dipahami secara teori, tetapi tercermin dalam tindakan kader.

Menutup pidatonya, Maulana mengajak seluruh kader GMNI meninggalkan konflik internal dan kembali bersatu membesarkan organisasi.

“Kita hanyalah setitik api di tengah lautan perjuangan, tetapi ingat, kita adalah api,” ucapnya, mengutip pesan perjuangan kader GMNI.

Ia berharap GMNI Kalimantan Tengah mampu menjadi kekuatan kaderisasi yang melahirkan generasi pejuang rakyat dan siap berkontribusi bagi bangsa.

“Mari kembali ke rumah kita bung dan sarinah, kembali pada jati diri GMNI,” pungkasnya.