Mahasiswa KKN-T Literasi UPR Hadirkan Rocket Stove untuk Solusi Pengelolaan Sampah di Desa Gumpa
BARITO TIMUR – Mahasiswa KKN-T Literasi Periode I Universitas Palangka Raya (UPR) Kelompok 19 menghadirkan inovasi Rocket Stove atau insinerator minim asap sebagai salah satu program kerja unggulan untuk mendukung pengelolaan sampah yang lebih efektif dan ramah lingkungan di Desa Gumpa, Kecamatan Dusun Timur, Kabupaten Barito Timur.
Inovasi tersebut dihadirkan sebagai bentuk kepedulian mahasiswa terhadap kondisi pengelolaan sampah di wilayah Kecamatan Dusun Timur yang hingga kini belum memiliki Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
Ketua KKN-T Literasi Kelompok 19, Dhany Setya Handary, mengatakan pembangunan Rocket Stove diharapkan dapat menjadi salah satu alternatif pengelolaan sampah sekaligus mendorong masyarakat untuk mengelola sampah secara mandiri dan bertanggung jawab.
“Kami berharap ke depan setiap RT di Desa Gumpa, bahkan di seluruh wilayah Kecamatan Dusun Timur, dapat memiliki Rocket Stove sebagai solusi pengelolaan sampah. Mengingat Kecamatan Dusun Timur belum memiliki Tempat Pembuangan Akhir (TPA), inovasi ini diharapkan dapat menjadi alternatif yang bermanfaat sekaligus menginspirasi masyarakat untuk mengelola sampah secara mandiri dan lebih bertanggung jawab,” ujar Dhany.
Rocket Stove merupakan insinerator sederhana yang menggunakan sistem pembakaran lebih efisien sehingga menghasilkan panas tinggi dengan asap yang lebih minim dibandingkan pembakaran sampah secara terbuka.
Meski demikian, penggunaannya tetap harus memperhatikan jenis sampah yang dapat dibakar. Karena itu, masyarakat juga diberikan edukasi mengenai pentingnya pemilahan sampah sebelum proses pembakaran dilakukan.
Selain mengurangi volume sampah, abu hasil pembakaran Rocket Stove juga dapat memiliki manfaat apabila berasal dari pembakaran bahan organik, seperti daun kering, ranting, dan limbah kayu yang tidak mendapatkan perlakuan kimia.
Abu dari bahan-bahan tersebut dapat dimanfaatkan sebagai campuran kompos, membantu menambah unsur hara kalium (K) dan kalsium (Ca) pada tanah, serta membantu menetralkan tanah yang terlalu asam.
Namun, abu yang berasal dari pembakaran sampah anorganik atau bahan berbahaya, seperti plastik, karet, baterai, dan limbah elektronik, tidak dianjurkan digunakan untuk keperluan pertanian dan harus dikelola secara hati-hati.
Program Rocket Stove tersebut merupakan hasil kolaborasi lintas disiplin ilmu yang diprakarsai oleh Dhany Setya Handary dari Fakultas Kedokteran, Program Studi Teknologi Laboratorium Medis, bersama Ainur Rohim dari Fakultas Teknik, Program Studi Teknik Sipil, serta Ahmad Mujadin dari Fakultas Pertanian, Perikanan dan Kehutanan, Program Studi Kehutanan, Universitas Palangka Raya.
Kolaborasi tersebut memadukan sejumlah aspek, mulai dari kesehatan lingkungan, teknik konstruksi, hingga pelestarian lingkungan.
Kepala Desa Gumpa, Imanuel, S.P., menyambut baik inovasi yang dihadirkan mahasiswa KKN-T Literasi UPR Kelompok 19 tersebut.
Menurutnya, Rocket Stove menjadi salah satu solusi yang relevan dengan kondisi Desa Gumpa, khususnya dalam menghadapi keterbatasan sarana pengelolaan sampah.
“Kami sangat mengapresiasi inovasi yang dibawa oleh adik-adik mahasiswa KKN Universitas Palangka Raya. Rocket Stove ini merupakan terobosan yang bermanfaat bagi masyarakat Desa Gumpa. Kami berharap fasilitas ini dapat dimanfaatkan dan dirawat bersama, serta menjadi contoh yang dapat dikembangkan di setiap RT maupun desa-desa lain di Kecamatan Dusun Timur. Pemerintah Desa Gumpa siap mendukung berbagai inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan lingkungan,” ungkap Imanuel, S.P.
Melalui program tersebut, KKN-T Literasi Kelompok 19 berharap Rocket Stove tidak hanya menjadi fasilitas pengelolaan sampah di Desa Gumpa, tetapi juga dapat direplikasi oleh desa-desa lain di Kabupaten Barito Timur sebagai salah satu alternatif dalam menghadapi keterbatasan sarana pengelolaan sampah.
Kehadiran Rocket Stove juga diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi masyarakat untuk bersama-sama menjaga kebersihan lingkungan, mengurangi praktik pembakaran sampah secara sembarangan, serta membangun budaya pengelolaan sampah yang lebih baik dan berkelanjutan.
Sinergi antara mahasiswa, pemerintah desa, dan masyarakat diharapkan menjadi langkah awal dalam mewujudkan pengelolaan lingkungan yang lebih bersih, sehat, dan berkelanjutan di Kabupaten Barito Timur.

Tinggalkan Balasan